Apa Saja Investasi yang Cocok Saat Inflasi Tinggi

Apa Saja Investasi yang Cocok Saat Inflasi Tinggi

Operatorkita.com Apa Saja Investasi yang Cocok Saat Inflasi Tinggi? – Seperti yang telah diketahui bahwa selain untuk mendapatkan keuntungan, investasi juga sering digunakan para investor sebagai hedging atau lindung nilai aset kekayaannya.

Namun seiring berkembangnya zaman, tawaran jenis investasi jadi semakin banyak dan membuat bingung para investor pemula. Maka tanpa banyak tulisan pembuka lagi, berikut daftar investasi saat inflasi tinggi dan telah terbukti dalam sejarah.

Emas dan Perak

Tentu Anda sudah bisa menebak bahwa kedua logam mulia ini pasti akan menjadi rekomendasi pertama. Seperti kita ketahui, emas dan perak selalu memiliki nilai yang tak pernah tergerus oleh inflasi.

Hal tersebut dapat dilihat jelas dari harga emas dan harga perak yang selalu menguat saat inflasi, entah itu akibat perang atau ketegangan geopolitik lainnya.

Lalu, di antara kedua logam mulia tersebut, manakah yang paling menguntungkan? Secara likuiditas, emas lebih likuid dibandingkan perak.

Sedangkan secara permintaan pasar, perak lebih unggul dibandingkan emas yang sudah tidak begitu dibutuhkan oleh sektor industri, bahkan secara statistik global, permintaan emas sebagai perhiasan juga cenderung menurun.

Selain itu, karena harga emas lebih mahal, maka investasi perak yang harganya lebih murah juga menjadi keunggulan tersendiri bagi investor kecil. Namun Anda tetap tidak boleh langsung ambil kesimpulan mana yang lebih menguntungkan hanya berdasarkan data tersebut.

Meski kenaikan harga perak secara partial sering melampaui emas karena faktor permintaan industri, namun apabila berkaca dari data historikal, keseluruhan kenaikan emas dari tahun 2000 hingga 2020 telah mencapai lebih dari 600 persen, sedangkan perak hanya hampir 500 persen saja, berselisih lebih dari 100 persen.

Setelah melihat berbagai pertimbangan di atas, sebenarnya emas dan perak memiliki keunggulan masing-masing dengan keuntungan serta risiko hampir sama.

Properti

Barang investasi satu ini memang terbilang jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan emas dan perak. Namun karena tingkat kebutuhannya yang selalu meningkat tiap tahun, maka tak salah bila berinvestasi properti bisa menjadi pilihan strategis Anda.

Selain bisa menjadi hedging karena kenaikan nilai yang konsisten, properti juga bisa mendatangkan keuntungan ketika Anda menyewakannya.

Jadi, apabila Anda memiliki modal yang cukup besar, maka properti adalah investasi yang cocok bagi Anda dalam persiapan menyambut inflasi di masa depan.

Value Stock

Untuk memahami apa yang dimaksud dengan value stock, Anda harus tahu terlebih dahulu tentang value investing. Pada dasarnya, value investing adalah strategi investasi dengan membeli sebuah aset yang diperdagangkan pada harga undervalue (di bawah nilai sebenarnya).

Investor menggunakan bermacam variabel untuk menganalisis nilai aset. Beberapa indikator yang digunakan adalah Price To Earnings Ratio (P/E), rasio kapitalisasi pasar per pendapatan tahunan, dan lain-lain. Ketika nilai intrinsik aset di atas nilai saat ini, maka aset dinilai undervalued.

Berdasarkan pengertian dasar value investing di atas, maka value stock adalah jenis saham yang undervalued. Nah, apabila penilaian undervalued tersebut benar dan dibeli saat itu juga, maka Anda akan memperoleh keuntungan ketika harga saham mengalami kenaikan.

Semakin besar selisih harga intrinsik dengan harga saat ini pada aset undervalued, maka semakin kecil kemungkinan Anda untuk kehilangan uang dalam aset investasi tersebut. Kesimpulannya, membeli value stock merupakan salah satu investasi yang sarat keuntungan di saat inflasi.

Reksa Dana Indeks

Investasi yang cukup populer dan cocok bagi pemula saat ini adalah reksa dana. Tapi, sebelum memulai investasi di reksa dana, ada baiknya Anda mengenal lebih dalam mengenai jenis reksa dana yang akan dipilih.

Salah satu jenis reksa dana yang sedang naik daun adalah reksa dana indeks. Reksa dana jenis ini dianggap paling cocok ketika inflasi tinggi datang menghampiri. Kenapa demikian?

Reksa dana indeks atau index fund ini tentu tak sama dengan jenis reksa dana populer, seperti reksa dana saham, reksa dana pasar uang, reksa dana campuran, atau reksa dana pendapatan tetap.

Index fund adalah reksa dana yang dikelola untuk mendapatkan hasil investasi mirip dengan indeks acuan, bisa indeks obligasi ataupun indeks saham. Yang paling umum dan banyak beredar di pasaran adalah reksa dana indeks saham IDX30 serta reksa dana indeks saham LQ45.

Indeks saham LQ45 adalah indeks yang mengukur kinerja harga dari 45 saham perusahaan dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar, serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.

Indeks saham acuan ini telah dipakai dalam delapan produk berbasis indeks. Umumnya, saham LQ45 adalah saham-saham yang berada di peringkat atas berdasarkan kapitalisasi pasar selama 12 bulan terakhir.

Indeks saham ini disesuaikan setiap enam bulan. Tujuan indeks saham LQ45 adalah menyediakan sarana yang tepercaya dan objektif bagi para manajer investasi, analis keuangan, maupun investor. Selain itu, juga sebagai pelengkap indeks harga saham gabungan (IHSG).

Perbedaan IDX30 dengan LQ45 adalah ruang lingkupnya, bila LQ45 mengukur dari 45 saham, maka IDX30 lebih sempit hanya dari 30 saham. Adapun 30 saham yang masuk di dalamnya itu juga berasal dari saham LQ45.

Seluruh saham perusahaan yang masuk kedua indeks tersebut, biasanya dianggap sebagai saham blue chip. Dengan demikian, tak heran jika reksa dana indeks IDX30 atau LQ45 bisa menjadi opsi investasi saat inflasi tinggi.

Kesimpulan

Siapa yang diuntungkan dari inflasi? Meski sering berdampak negatif pada masyarakat kecil, namun inflasi juga menawarkan kesempatan pada investor untuk menghasilkan berbagai keuntungan.

Bukan hanya sebagai opsi meraih profit cuan jangka panjang, namun diversifikasi investasi pada beberapa rekomendasi di atas dapat membantu menahan portofolio Anda dari segala konsekuensi yang merugikan, sebelum inflasi semakin menurunkan daya beli.

Pastikan juga untuk melakukan investasi yang sesuai dengan profil risiko Anda. Misalkan Anda adalah investor pemula yang ingin belajar bagaimana melakukan lindung nilai terhadap inflasi.

Dalam hal ini, Anda dapat mulai dengan opsi berisiko rendah, seperti reksa dana indeks yang telah memiliki rekam jejak kredibel dan jelas.

Jika Anda adalah investor yang lebih berpengalaman, membeli value stock atau sebuah properti bisa menjadi opsi terbaik. Namun, apapun pilihan Anda berinvestasi, tetap jangan melupakan emas dan perak sebagai opsi wajib mendiversifikasi dana investasi.

You May Also Like

About the Author: Ranger Hitam

Leave a Reply

Your email address will not be published.